Peripheral Scanner

Definisi Scanner

Peripheral Scanner merupakan salah satu peralatan yang digunakan untuk melakukan entry data grafis ke dalam sistem komputer. Image scanner melakukan pemindaian (scan) suatu obyek gambar atau dokumen dan mengkonversinya ke dalam bentuk digital.

Scanner dapat dijalankan dengan 1-bit (binary digit / angka biner), 8-bit (256 warna), dan 24 bit (lebih dari 16 juta warna), menggunakan scanner dengan bit yang besar, maka akan diperoleh kwalitas yang lebih baik.

Scanner dapat bekerja dengan dilengkapi peralatan tambahan yaitu :

  1. Kabel data . Digunakan untuk menghubungkan antara scanner dengan komputer. Dua jenis kabel data yang sering digunakan dalam scanner yaitu : USB (Universal Serial Bus) atau Parallel.
  2. Power Supply . Menghubungkan scanner dengan sumber listrik. Terdiri dari adaptor dan kabel penghubung tegangan ke scanner.

Faktor utama dalam pemilihan scanner adalah :

  1. Dynamic range (rentang nada) yaitu banyaknya gray level (tingkat abu-abu) dari bagian paling terang dan paling gelap di dalam suatu gambar.
  2. Mata dari scanner atau CCD (charge-coupled device) yang menentukan banyaknya data yang dapat ditangkap oleh scanner

Ada 2 macam type Scanner yaitu :

  1. Magnetic Ink Character Recogniton (MICR) Reader
  2. Optical Macnetic Reader (OMR)

Add comment April 4, 2009

Sejarah Perkembangan Komputer

Mengenal Printer dan Teknologinya

Teknologi Printer

Dari waktu ke waktu, teknologi printer terus berkembang sehingga mau tidak mau bagi seseorang yang selalu berhubungan dengan komputer dan peralatan lainnya harus terus mengikuti perkembangan tersebut. Printer dalam bahasa Indonesianya berarti pencetak (alat cetak). Istilah ‘printer’ saat ini sering digunakan untuk menyebut alat cetak yang terhubung dengan komputer. Untuk menghubungkan printer dengan komputer diperlukan sebuah kabel yang terhubung dari printer ke CPU komputer. Saat ini, merk produk printer yang sering digunakan diantaranya adalah Epson, Hewlett Packard (HP), Canon, Lexmark dan masih banyak lagi. Untuk mengetahui lebih jelas tentang fungsi, jenis printer dan cara kerja printer, silahkan membaca kelanjutan artikel ini.

Fungsi printer

Printer adalah salah satu hardware (perangkat keras) yang terhubung ke komputer dan mempunyai fungsi untuk mencetak tulisan, gambar dan tampilan lainnya dari komputer ke media kertas atau sejenis. Istilah yang dikenal pada resolusi printer disebut dpi (dot per inch). Maksudnya adalah banyaknya jumlah titik dalam luas area 1 inci. Semakin tinggi resolusinya maka akan semakin bagus cetakan yang dihasilkan. Sebaliknya, jika resolusinya rendah maka hasil cetakan akan buruk / tidak bagus.

Jenis Printer

Printer Dot-Matrix

Printer Dot-Matrix adalah pencetak yang resolusi cetaknya masih sangat rendah. Selain itu ketika sedang mencetak, printer jenis ini suaranya cenderung keras serta kualitas untuk mencetak gambar kurang baik karena gambar yang tercetak akan terlihat seperti titik-titik yang saling berhubungan. Umumnya, printer jenis dot-matrix juga hanya mempunyai satu warna, yaitu warna hitam. Tetapi saat ini printer ini masih banyak digunakan karena memang terkenal ‘bandel’ (awet). Kelebihan lainnya, pita printer dot-matrix jauh lebih murah dibandingkan dengan toner (tinta) untuk printer jenis inkjet dan laserjet.

InkJet Printer

Inkjet printer adalah alat cetak yang sudah menggunakan tinta untuk mencetak dan kualitas untuk mencetak gambar berwarna cukup bagus. Kecepatan mencetak jumlah halaman pada printer Inkjet tidak sama, tergantung pada jenis merk printer tersebut. Tetapi pada inkjet printer, hasil cetakan lebih lama keringnya jika dibandingkan dengan laser printer.

Laser Printer

Sebagian dari laser printer bentuknya mirip dengan mesin fotokopi. Daya cetaknya juga cukup banyak bisa mencapai lebih dari 10 lembar per menit. Kualitas hasil cetak laser printer pun sangat bagus, sehingga mirip sekali dengan aslinya. Selain itu hasil cetakan cepat kering. Tetapi harga printer ini cukup mahal.

Add comment Februari 17, 2009

KEBUSUKAN PARA PENDETA

Pertanyaan:

Saya mendapat selebaran yang isinya berupa keterangan beberapa ayat al-Quran, diantaranya disebutkan bahwa Khadijah isteri pertama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang Nashrani (Kristen), Paman Khadijah, Waraqah adalah Nashrani (Kristen). Qs. Ali Imran : 45 menyatakan bahwa Alloh menciptakan Isa (Jesus) dari kalimat-Nya. Jesus akan berkuasa di dunia dan di akhirat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegakkan Taurat dan Injil. Dalam selebaran itu pun disebutkan keterangan dari hadits Muslim bahwa Isa anak Maryam akan menjadi hakim yang adil. Mohon penjelasan !

Jama’ah-Parongpong Bandung

Jawaban :

Orang Kristen itu sejak awal sudah menampakkan i’tikad yang tidakbaik, mereka suka menjajah negara-negara yang berpenduduk Islam. Indonesia sendiri dijajah oleh mereka lebih dari 350 tahun, mereka mendirikan gereja, lembaga pendidikan, panti-panti. Tapi tidak ada yang tertarik kecuali orang-orang bodoh tentang Islam. Kini mereka beralih membujuk orang-orang miskin dengan materi, dan membeli lahan-lahan pegunungan.

Perlu kita yakini bahwa Yahudi dan Nashrani sampai kapan pun akan membenci Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umatnya, Firman Alloh Qs. al-Baqarah/2:120

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Firman Alloh pada Qs. al-Baqarah/2:109

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dari ayat ini jelas sekali bahwa Yahudi dan Nashrani itu kafir, musuh Islam. Yang namanya musuh akan selalu menyalahkan dan berupaya menghancurkan. Apa pun yang mereka katakan tentang agama jangan dipercaya walaupun tentang agama mereka. Sepanjang sejarah, mereka selalu mengubah ayat-ayat Kitab disesuaikan dengan hawa nafsu mereka. Para rahib Yahudi mengubah ayat-ayat Taurat dan para pendeta Nashrani mengubah ayat-ayat Injil. Mereka itu cemburu sebab tidak ada kitabnya yang asli. Menurut pengakuan Abu Luthfi, mantan pendeta yang masuk Islam, “Kitab Kristen itu berubah-ubah” Dia memperlihatkan bukti-buktinya dengan membuka Bibel. Sebab itu haram hukumnya percaya kepada pernyataan Yahudi dan Nashrani tentang Islam. Kini mereka berupaya merusak Kitab Alloh yang terakhir, al-Quran, melalui penafsiran mereka yang tidak tahu sama sekali tentang Ulumul Quran. Al-Quran itu Kitab Alloh yang kekal yang dijamin Alloh kelestariannya selama-lamanya

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. al-Hijr/15:9)

Jika mereka berdalih dengan al-Quran berarti harus percaya bahwa semua nabi beragama Islam, sebab al-Quran menyatakan demikian. Firman-Nya,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَاب

ِSesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Qs. Ali Imran/3:19)

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.(Qs. Ali Imran/3:52)

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”.(Qs. Al-Maidah/5:111)

Ayat-ayat al-Quran saling menafsirkan satu sama lain. Haram hukumnya menafsirkan ayat berdasarkan ra’yu (pendapat), sementara ada ayat lain, hadits, atau atsar shahabat yang menjelaskan maksud ayat tersebut. Apalagi ayat itu ada yang mutasyabbihat, yaitu ayat yang samar artinya, bahkan selintas bisa ditafsirkan sebaliknya, sehingga maksudnya menyalahi yang sebenarnya. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam Qs. Ali Imran/3: 7

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Qs. Ali Imran/3:7)

Dengan adanya ayat mutasyabbihat, Alloh hendak menguji manusia; apakah ia beriman kepada ayat itu atau mempermainkannya. Orang-orang Kristen tidak hanya bengkok hatinya melainkan busuk, mereka mencari ayat-ayat mutasyabbihat di antaranya ayat 45 surat Ali Imran.

إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (Qs. Ali imran/3:45)

Pada ayat itu ada kata BIKALIMATIN MINHU (dengan kalimat dari-Nya). kata ini diartikan ANAK dari-Nya, padahal kata-kata yang jelas setelahnya yaitu ISA BIN MARYAM. Ayat muhkamat yang menjelaskan diantaranya Qs. al-Ikhlash, bahwa Alloh itu tidak punya anak dan tidak pula punya ayah ibu. Pada Qs. an-Nisaa/4:171 disebutkan:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Adapun kata yang terkemuka di dunia dan di akhirat; Nabi Isa terkenal karena tidak punya ayah seperti Adam, sedangkan di akhirat, nanti beliau akan datang lagi pada hari kiamat. Dalam hadits yang diriwayatkan para imam Muhaddits diantaranya al-Bukhari dan Muslim diterangkan, telah bersabda Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَالَّذِي نَفِسْي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَيَقْبَلَهُ أَحَدٌ، حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا. ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْا هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوْا إِنْ شِئْتُمْ (وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا)

Demi diriku ada ditangan-Nya, sebentar lagi akan turun kepadamu Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil; Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, membekukan upeti, membagikan harta sehingga tidak ada seorang pun yang menerimanya, sehingga satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Kata Abu Hurairah, bacalah (Qs. An-Nisaa/4:159)

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Nanti pada hari kiamat Nabi Isa akan terkenal, karena beliau turun sebagai hakim yang adil, kemudian menghancurkan salib yang selalu disembah-sembah oleh orang-orang yang meyakini bahwa Isa wafat ditiang salib. Membunuh babi yang suka di makan orang Kristen.

Jika mereka berani berdialog dengan kita, ajaklah untuk bermubahalah, Firman Alloh Ta’ala:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ-الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ-فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.-(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.-Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (Qs. Ali Imran/3:59-61)

Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat mendo’a kepada Alloh dengan bersungguh-sungguh, agar Alloh menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengajak utusan Nashrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Beliau dan kebohongan mereka.

Sumber: Majalah Da’wah Islamiyah Risalah No.

10 Th. 45 Muharram 1429 / Januari 2008

Add comment Desember 28, 2008

SALAFI

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb

.

Akhir-akhir ini banyak buku2 yang muncul dengan merujuk pada manhaj salafi. Misalnya buku2 karangan Bin Baz, Utsaimi dll. Bagaimana menyikapi hal ini?

Wassalmu’alaikum w.w

Ita Moerad

Jawaban :

Bismillahirrahmanirrahim

Alquran dan Sunah telah mengisyaratkan adanya perbedaan-perbedaan pendapat, dan tidak setiap pendapat itu benar. Karena itu Allah telah mengarahkan bagaimana cara mensikapi perbedaan-perbedaan pendapat itu.

Az-Zumar, An-nisa,

لَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو اْلأَلْبَاب

Yaitu orang-orang yang mendengarkan dengan sebaik-baiknya serta mengikuti yang terbaiknya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk dan mereka itulah ulul albab. Q.s. Az-Zumar : 18.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan pemimpin dari kalian. Jika kalian berselisih akan sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu sebaik-baik dan sebagus-bagus pengartian.Q.s. An-nisa : 59

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْخَزَّاعِيّ قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ : أَْشِرُوا وَأَبْشِرُوا أَلَيْسَ تَْشْهَدُونَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ؟ قَالُوا: نَعَمْ قَالَ: فَإِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ سَبَبُ طَرْفِهِ بِيَدِ اللهِ وَطَرْفِهِ بِأَيْدِيكُمْ فَتَمَسَّكُوا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَضِلُّوا وَلَنْ تَهْلِكُوا بَعْدَهُ أَبَدًا .ابن حبان

Dari Abu Syureh Al-Khazza’i, ia berkata,”Rasulullah saw. keluar menemui kami lalu bersabda,’Bergembirala! Bergembiralah! Bukankah kalian bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah?’ Mereka menjawab,’Ya’ Beliau bersabda,’Sesungguhnya Al-Quran ini sebab satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya lagi di tangan kalian. Berpegangteguhlah dengannya, karena setelah itu kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.’” H.r. Ibnu Hiban, I : 329

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَطَبَ النَّاسَ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ فَقَالَ : قَدْ يَئِسَ الشَّيْطَانُ بِأَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ وَلَكِنَّهُ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تُحَاقِرُونَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوا يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه و سلم . رواه الحاكم، المستدرك على الصحيحين

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah saw. berkhotbah kepada orang-orang pada haji wada’, beliau bersabda,”Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di bumi kalian ini. Tetapi ia masih rela untuk ditaati tentang selain itu. Yaitu dari yang kalian anggap enteng dari amal-amal kalian. Maka hati-hatilah wahai manusia. Sesungguhnya aku sungguh telah jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Yakni kita Allah dan sunah Nabi-Nya.’” H.r. Al-Hakim., Almustadrak ‘alash shahihain, I : 171

Hadis seperti ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan perbedaan lafal.

َقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَا تَقُولُونَ إِنْ كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دِنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ بِهِ وَإِنْ كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ . رواه إبن خزيمة

Rasulullah saw. bersabda,”Apa yang kalian katakan, jika sesuatu itu dari urusan keduniaan kalian maka kalianlah pemegang urusannya dan jika jika sesuatu itu dari urusan agama kalian, maka kepadaku.” H.r. Ibnu Khuzaimah, I : 214.

Berdasarkan keterangan ayat-ayat dan hadis di atas jelas sekali bahwa sumber hukum hanyalah Alquran dan As-Sunnah. Dan tentu saja tidak dibenarkan dalam urusan agama menjadikan suatu manhaj sebagai sumber hukum Selain Alquran AsSunnah.

عَنِ مُعَاذٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم لَمَّا بَعَثَهُ قَالَ: كَيْفَ تَقْضِي؟ قََالَ: أَْقْضِي بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كِتَابٌ؟ قَالَ: أَقْضِي وَعِشْرُونَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ سُنَّةً مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه و سلم؟ قَالَ: أَجْتَهدُ بِرَأْيِي: قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي وَفَقَ رَسُولَ رُسُولِ اللهِ.

Dari Muadz bin Jabal bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengutusnya bersabda, ‘Bagaimana engkau menetapkan keputusan?’ Ia menjawab Aku menetapkan keputusan dengan kitab Allah.’ Jika tidak ada di dalam kitab?’ Ia menjawab,’Aku menetapkan dengan Sunah Rasululah saw.’ beliau bertanya lagi,’Jika tidak ada di dalam As-Sunah?’ Ia menjawab,’Aku berijtihad dengan pikiranku.’” H.r. Mushanaf Ibnu bu Syaibah, VI : 13

Dan beliau tidak sama sekali menyebut manhaj salafi sebagai sumber hukum.

Wallahu A’lam

Add comment Desember 28, 2008

KERASUKAN JIN

Pertanyaan:

Bismillah,

Apakah manusia bisa kerasukan jin/jin bisa masuk pada tubuh manusia (Kesurupan)?, Apakah hadits berikut mengindikasikan bahwa manusia bisa kesurupan :

Utsman bin Abi al-’Ash r.a. berkata, ketika aku bekerja untuk Rasulullah saw. di Thaif, tiba-tiba aku melihat sesuatu dalam shalatku, sampai-sampai aku tidak tahu sedang shalat apa. Maka setelah kejadian itu aku menemui Rasulullah saw. Rasulullah berkata, ”Ibnu Abi al-’Ash?” Aku menjawab, ”Benar, ya Rasulullah.” Rasul bertanya, ”Apa yang membuatmu datang ke sini?” Aku menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku melihat sesuatu dalam shalatku sampai-sampai aku tidak tahu sedang shalat apa.” Nabi bersabda, ”Itu adalah setan (jin). Mendekatlah padaku!” Maka aku pun mendekat kepada Nabi, lalu aku duduk. Ibnu Abi al-’Ash berkata, ”Lalu Nabi memukul dadaku dengan tangannya dan meniup mulutku sambil berkata, ”Keluarlah musuh Allah!” Nabi melakukannya sebanyak tiga kali. Lalu Nabi berkata, ”Teruskanlah pekerjaanmu.” (H.R. Ibnu Majah 2:273 dan disahihkan Imam al-Bani)

Atas jawaban ustdaz Ana ucapkan terima kasih.

Wassalam

A. Haris

Jawaban :

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kesurupan berasal dari bahasa sunda, yaitu surup. Surup asal artinya pantas atau serasi. Tetapi menjadi tenggelam bila disambung dengan panon poe atao bulan. Seperti surup panon poe. Adapun bila menjadi nyurup akan berarti roh halus, jin dll. ke dalam badan manusia. Maka dikenallah bahasa kasurupan dan di bahasa indonesiakan menjadi kesurupan atau kerasukan. Kamus lengkap bahasa sunda-Indinesia, Indonesia Sunda, Sunda-sunda. Susunan drs. Budi Rahayu Tamsyah Spk.

Di dalam bahasa inggris disebut trance yang berarti keadaan mabuk atau kemasukan roh atau setan.

Di dalam disiplin ilmu kedokteran dikenal dua istilah, yaitu hipnosa dan disosiasi

Hipnosa ialah kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit, artinya hanya menerima rangsang dari sunber tententu). Melalui sugesti, mirip dengan tidur dan sangat mudah untuk disugesti. Setelah itu bila terus berlanjut dapat timbul amnesia.

Disosiasi ialah sebagaian tingkah laku atau memisahkan diri secara psikologik dari kesadaran. Kemudian terjadi amnesia sebagaian atau total.

Disosiasi ini dapat berupa TRANS (trance), yaitu keadaan kesadaran tanpa reaksi yang jelas terhadap lingkungan yang biasanya mulai dengan mendadak : mungkin terjadi imobilitas dan roman muka yang bengong/kehilangan akal atau melamun. Dapat ditimbulkan karena hipnosa atau depresi. (disarikan dari makalah singkat dr.Hari Rayadi Mrs.av.)

Inilah yang oleh orang-orang berkepercayaan syirik kesurupan atau kerasukan jin, roh halus atau hantu.

Adapun jin adalah satu makhluk gaib.

اَلجِنُ : عَالَمٌ غَيْرُ مَرْئِيٍ لِلْبَشَرِ حَسْبُ أَصْلِ خَلْقَتِهِ ، فَهُمْ مِنْ عَالَمِ الأَثِيرِ وُجُودٌ بِلاَ ظِلٍّ غَبْرُ قَابِلِينَ لِرُؤْيَةِ البَشَرِ ، فَالجِنُّ حَقِيقَةٌ وَاقِعَةٌ غَيْرٌ مَنْظُورَةٍ لَنَا بِدَلِيل قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : {إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ }

Jin adalah alam yang tidak terlihat bagi manusia sesuai asal penciptaannya. Mereka adalah alam maya yang wujud tanpa bayangan, tidak untuk dilihat oleh manusia. Maka jin hakikat yang nyata tidak terlihat bagi kami dengan dalil Firman Allah : – Sesungguhnya ia dan kaumnya melihat kamu dengan keadaan yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Syaitan-syaitan itu teman rapat bagi orang-orang yang tidak beriman.

Adapun pengertian gaib:

الَغَيْبُ : مَالاَ يَقَعُ تَحْتَ الحَوَاسِ وَلاَ تَقْتَضِيهِ بِدَايَةُ العُقُولِ وَ إِنِّمَا يُعْلَمُ بِخَبَرِ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ

Gaib ialah sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indera, tidak akan dapat disimpulkan oleh ketinggian akal, dan hanyalah dapat diketahui dengan melalui kabar-kabar para nabi alahimus salam. Ar- Ragib : 717.

Keterangan ini berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut :

عَالِمُ الغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أحدا إِلاَّ مَنْ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا(27)

Ia Yang Maha mengetahui gaib, maka Ia tidak akan menampakkan atas kegaiban itu kepada seorang pun, melainkan kepada Rasul yang di redaiNya. Maka Ia mengadakan di hadapan dan di belakang Rasul itu malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawasinya. Q.s. Al-jin : 27

Oleh karena itu di dalam ayat lainnya Rasulullah saw, diperintah oleh Allah swt. untuk menyampaikan ayat,


قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
(50)

Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa) perbendaharaan Allah ada di sisiku, dan aku pula tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib; aku juga tidak mengatakan kepada kamu bahawasanya aku ini malaikat, aku tidak menurut melainkan apa yang diwahyukan kepadaku”. Bertanyalah (kepada mereka): “Adakah sama orang yang buta dengan orang yang celik? Tidakkah kamu mahu berfikir?” Al-an’am : 50.

Demikian pula beliau mengetahui sedikit tentang jin setelah diberi wahyu oleh Allah swt. tentangnya.

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنْ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1)

Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya: satu rombongan jin telah mendengar (Al-Quran yang aku bacakan), lalu mereka (menyampaikan hal itu kepada kaumnya dengan) berkata: `Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran (sebuah Kitab Suci) yang susunannya dan kandungannya sungguh menakjubkan!. Q.s.aljin : 1

Berdasarkan keterangan-keterangan ini jelas sekali bahwa jin termasuk makhluk gaib. Dan Rasulullah saw. pun mengetahui hal itu hanya merupakan wahyu.

Jadi, haruslah dibedakan antara jin dengan iblis. Dan malaikat, Iblis, dan jin termasuk jenis jin. Mereka adalah makhluk gaib yang tidak akan dapat dilihat atau dirasakan oleh panca indra manusia.

Adapun mengenai bisikan-bisikan yang buruk atau bisikan yang memerintah manusia kepada kemaksiatan, tentu itu merupakan bisikan setan, baik yang berasal dari bangsa jin ataupun manusia.. Dengan demikian, mustahil jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Tegasnya mereka hanya dapat mengerjakan yuwaswisu fi shudurinnas.

Adapun mengenai hadis

Kejadian yang dialami oleh Usman bin Abu al-Ash, ia ditepuk dadanya yang diganggu setan di dalam salatnya, bahkan sampai ia lupa sedang salat apa adalah kejadian sering dialami oleh yang sedang salat. Itulah gangguan setan. Lalu Rasulullah saw. memukul dada Usman sambil ditiupnya mulut Usman oleh beliau seraya bersabda,”Keluarlah wahai musuh Allah.!”

Cara ini pun sering dilakukan oleh Rasulullah saw. untuk menguatkan mental atau batin sahabat yang memiliki masalah mental. Umpamanya di dalam hadis Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim diceritakan bahwa ketika Fatimah putri Rasulullah saw. merasa kesulitan dan berat mengurusi pekerjaan rumah tangga, lalu ia meminta agar Rasulullah saw. memberinya seorang pembantu, Rasulullah saw. tidak memberinya pembantu, tetapi beliau menekan dada Fatimah dengan lutut beliau dan Fatimah diperintah membaca zikir tertentu sebelum tidur.”

Tentu saja walaupun Rasulullah saw. menekan dada Fatimah dengan lututnya, hal itu sama dengan Rasulullah saw. memukul dada Usman dan meniup mulutnya. Artinya, kemalasan, perasaan tidak mampu menghadapi pekerjaan keseharian sebagai ibu rumah tangga merupakan penyakit yang dimasukkan oleh setan ke dalam hati manusia. Hal ini seperti sering kehilangan kekhusyuan di dalam salat.

Jadi cara Rasulullah saw. ini adalah cara mendorong mental agar menjadi kuat dengan melalui sugesti.

Jadi sering terganggu/diganggu setan di dalam salat adalah merupakan hal yang buruk dan harus dihilangkan. Karena jangankan melamun akibat melihat sesuatu, hanya menoleh pun di dalam salat sudah dikatakan dicuri sesuatu dari salatnya oleh setan.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الِالْتِفَاتِ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ

Dari Aisyah, ia berkata,”Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang menoleh di dalam salat, beliau menjawab,’Itu adalah pencurian yang dilakukan oleh setan dari salat seorang hamba.” H.r. Al-Bukahri. 709.

Jadi, janganlah karena jin tidak dapat bertindak apa-apa kepada manusia, lalu selalu menjadi sasaran. Yang jelas setan itu selalu membisikan hal-hal buruk kepada manusia, maka janganlah diikuti dan harus dilawan

 Wallahu a’lam

Wassalaam

Sumber: http://www.persis.or.id 26 Juni 2008

Add comment November 27, 2008

ABU THALIB MUSLIM ?

Pertanyaan:

Apakah benar Abdul Muththalib paman Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat dalam keadaaan non-muslim? Berdosakah bila tidak percaya seandainya betul Abdul muththalib meninggal nya non-muslim ?

Idin Sahidin-Gunung Tanjung Tasikmalaya

Jawaban :

Abdul Muththalib bukan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, paman beliau bernama Abu Thalib. Abdul Muththalib adalah kakek Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari pihak ayah. Pada usia beliau delapan tahun kakeknya meninggal. Mana mungkin Abdul Muththalib menganut Islam yang dibawa cucunya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus menjadi Rasul pada usia 40 tahun. Apa yang mendasari saudara berkeyakinan bahwa Abdul Muththalib muslim ?

Abu Thalib adalah paman beliau, putra Abdul Muththalib. Ada beberapa riwayat tentang wafatnya Abu Thalib bin Abdul Muththalib, diantaranya adalah:

أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُوْا جَهْلٍ فَقَالَ: أَيْ عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ. فَقَالَ أَبُوْا جَهْلٍ وَعَبْدُ اللهِ ابْنُ أَبْي أُمَيَّةَ يَاأَبَا طَالِبٍ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَيْئٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أُنْهَ عَنْهُ. فَنَزَلَتْ (مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أُوْلِى قَرْبَى مِنْ بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيْمِ) وَنَزَلَتْ (إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ) (رواه البخاري و مسلم و النّسائي)

Bahwa Abu Thalib, ketika datang tanda-tanda wafatnya, ditengok oleh Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Paman, ucapkanlah, LAA ILAAHA ILLALLAH dengan kalimat itu saya dapat berhujjah di hadapan Alloh (bahwa engkau adalah muslim)” Abu Jahal dan kawannya berkata, “Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci millah (agama) Abdul Muththalib ?” Kedua orang itu terus menerus membujuk, sehingga akhir katanya adalah yang dianjurkan mereka yaitu atas millah Abdul Muththalib. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh saya akan memohon pengampunan untukmu andai saya tidak dilarang.” Lalu turunlah (Qs. at-Taubah/9 ayat 113)

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أُوْلِى قَرْبَى مِنْ بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيْمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Jahanam.

Kemudian turun pula Qs. al-Qashash/28 ayat 56:

إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs. al-Qashash/28:56) (HR. al-Bukhariy, Muslim dan an-Nasa’iy)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَبَا طَالِبٍ مَاتَ. فَقَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ. قَالَ إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا. قَالَ:  اذْهَبْ فَوَارِهِ. فَلَمَّا وَارَيْتُهُ رَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ لِي: اغْتَسِلْ (رواه النّسائي)

Dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu, bahwasannya ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seraya berkata, “Bahwa Abu Thalib telah meninggal”. Sabda beliau, “Pergilah, kuburkan dia”. Kata Ali, “Ia meninggal dalam keadaan musyrik”. Sabda beliau, “Pergilah, kuburkan dia”. Setelah saya menguburnya, saya datang lagi kepada beliau, lalu katanya, “Mandilah”. (HR. an-Nasa’iy)

Jangan berkeyakinan tanpa dalil-dalil al-Quran dan al-Hadits shahih. Firman Alloh Ta’ala:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Qs. al-Israa/17:36)

Dari kisah tentang Abu Thalib kita dapat mengambil pelajaran bahwa amal baik saja tanpa iman tidak cukup untuk menyelamatkan diri dari api neraka.

Sumber: Majalah Da’wah Islamiyah RISALAH no. 5 Th. 46 Sya’ban 1428 / Agustus 2008

Add comment November 26, 2008

Zakat usaha isi ulang pulsa

Bismillah, Bidgar Sosek kami membuka usaha isi ulang pulsa, pertanyaannya :

1. Apakah usaha tersebut kena wajib zakat?

2. Bagaimana cara menghitung zakatnya? Atas jawaban ustadz saya ucapkan Jazakallah. Wassalam

Abdul Haris

Jawaban

Diantara jenis usaha yang diwajibkan zakatnya adalah perdagangan atau jual beli. Tetapi apabila sifat usahanya hanya dalam bentuk membantu menjualkan barang orang, lalu mendapat prosentase atau upah, maka tidak dikenai kewajiban zakat.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنِ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ-رواه ابو داود-

Dari Samurah bin Jundab r.a., ia berkata, “Adalah Nabi saw. memerintah kami untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kami sediakan untuk berdagang.” H.r. Abu Dawud

عن ابن عمرو بن حماس ان اباه قال مررت بعمر بن الخطاب ر وعلى عنقى ادمة احملها فقال عمر الا تؤدى زكاتك يا حماس؟ فقلت يا امير المؤمنين مالى غير هذه التى ظهرى واهبة في القرط فقال ذاك مال فضع قال فوضعتها بين يديه قحسبها قد جدها قد وجبت فيها الزكاة فاخذ فيها الزكاة

Dari Ibnu Amr bin Hammas sesungguhnya bapaknya mengatakan, “Aku lewat kepada Umar bin Khatab, sedang pada pundaku kulit-kulit yang aku pikul. Umar bertanya, ‘Sudahkan engkau keluarkan zakatnya wahai Hammas? Aku bertanya, ‘Wahai Amirul mukminin, saya tidak mempunyai barang dagangan selain yang ada pada pundaku ini, beberapa kulit mentah yang sedang disamak’ Maka Umar berkata, ‘Itulah barang dagangan, letakanlah! Lalu aku meletakan dihadapannya, lalu menghitungnya, lalu beliau dapatkan harta itu telah wajib dikeluarkan zakatnya, lalu beliau mengambilnya.’” H.r. Asy-Syafi’i, Al-Um 2:46

3. Pegawai yang hasilnya belum mencukupi kebutuhan pokok, apakah wajib infaq?

Bagi karyawan yang mendapatkan upah/gaji tidak terkena wajib zakat, akan tetapi tidak lepas dari kewajiban infaq. Namun apabila upah yang didapat itu untuk memcukupi kebutuhan pokok pun belum cukup, maka Allah memaafkannya dan tidak berdosa.

Sumber : persis.or.id

Add comment November 26, 2008

ALAM KUBUR

Tahapan-tahapan Kehidupan

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dari [1] tanah (at-turab) dan ruh. Allah SWT membekalinya dengan hati, akal dan jasad, sehingga manusia memiliki tekad (al-‘azmu), ilmu dan amal. Dengan berbekal ketiganya manusia diberi amanah oleh Allah SWT, sebuah amanah yang makhluk-makhluk lain yang besar-besar, jauh lebih besar dari manusia, seperti langit, bumi dan gunung-gunung, menolak untuk menerimanya (33:72). Amanah yang diterima manusia berupa ibadah (51:56) yang merupakan tujuan penciptaannya dan khilafah (2:30) yang merupakan fungsi manusia di dunia. Kedua amanah ini kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir.

Sesungguhnya manusia hidup bukan hanya di dunia saja, tetapi telah menjalani kehidupan lain sebelum ke dunia dan akan menjalani kehidupan lainnya lagi setelah di dunia. Itulah tahapan-tahapan kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati (1), lalu Allah menghidupkan kamu (2), kemudian kamu dimatikan (3) dan dihidupkan-Nya kembali (4), kemudian kepada-Nya-lah kamu.” (2:28).

Secara garis besar penjelasan ayat di atas ditunjukkan oleh Tabel 1.

Tabel 1 Mengapa kamu kafir kepada Allah??

No

Potongan Ayat

Keterangan

1

padahal kamu tadinya mati

Mati

2

lalu Allah menghidupkan kamu

Hidup

3

kemudian kamu dimatikan

Mati

4

dan dihidupkan-Nya kembali

Hidup

5

kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan

Dikembalikan

Secara lebih rinci, seluruh tahapan kehidupan yang telah dan akan dialami manusia ditunjukkan oleh Tabel 2. Seluruh manusia akan mengalami 14 (empatbelas) alam, dari alam ruh hingga surga/neraka. 11 alam di antaranya adalah alam setelah manusia mati. Sungguh perjalanan yang sangat panjang menuju surga/neraka.

Tabel 2 Seluruh tahapan kehidupan manusia

AYAT

ALAM ANTARA

ALAM UTAMA

padahal

kamu tadinya mati

1) Alam Kesatu : ALAM ROH /ALAM ARWAH

yakni alam Awal manusia diciptakan dan tidak ada satupun manusia mengetahuinya karena bagi Allah SWT tidak ada batas Ruang / Waktu dan Tempat

lalu Allah menghidupkan kamu

2) Alam Kedua : ALAM RAHIM

yakni alam dimana manusia tercipta melalui suatu proses pembenihan di dalam Rahim/ kandungan yang lamanya sudah ditentukan 9 bulan

3) Alam Ketiga : ALAM DUNIA

yakni alam ujian sebagaimana yang kita sedang alami bersama sekarang ini.

kemudian  kamu dimatikan

4) Alam Keempat : ALAM SAKARATUL MAUT

yakni alam pada saat roh manusia dicabut oleh Allah swt yakni alam antara Dunia menuju alam kubur

5) Alam Kelima : ALAM KUBUR atau ALAM BARZAH,

yakni alam di mana manusia akan memperolah Siksa atau Nikmat kubur tergantung perbuatannya selama hidupnya di dunia sambil menunggu datangnya hari kiamat. Dan bagi yang memperoleh nikmat kubur,  mereka para ahlul kubur seperti tidur saja  layaknya

dan dihidupkan-Nya kembali

6) Alam Keenam : KIAMAT atau disebut AKHIR ZAMAN atau Yaumul Qiyamah yakni alam dimana Allah swt memusnahkan Bumi – mahluk hidup beserta seluruh isinya Lihat Situs kiamat

7) Alam Ketujuh: KEBANGKITAN

8) Alam Kedelapan : ALAM MASYHAR yakni alam dimana Manusia dibangkitkan kembali dari Alam Kubur oleh Allah swt serta berkumpul di Padang Masyhar dan masing masing manusia tidak mengenal satu sama lainnya

kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan

9) Alam Kesembilan: BALASAN

10) Alam Kesepuluh: DIHADAPKAN KEPADA ALLAH DAN PERHITUNGAN

11) Alam Kesebelas: KOLAM

12) Alam Keduabelas: TIMBANGAN

13) Alam Ketigabelas: JALAN

14) Alam Kesembilan : SORGA DAN NERAKA

a) ALAM SORGA: alam kenikmatan bagi manusia yang selamat setelah dihisab oleh Allah SWT
b) ALAM NERAKA: alam kesengsaraan/siksaan bagi manusia yang tidak selamat setelah dihisab oleh Allah SWT

Alam Kubur (Al-Barzakh)

Alam kubur disebut juga alam barzakh (dinding), karena kubur adalah dinding yang memisahkan antara dunia dan akhirat. Di dalam al-Qur’an kata ”barzakh” disebut di tiga ayat, yaitu 23:100, 25:53 dan 55:20. Barzakh yang bermakna kubur terdapat pada surat 23:100. Allah SWT berfirman, ”Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” Sedangkan surat 25:53 dan 55:20 berkaitan dengan dinding pemisah antara dua lautan.

Allah SWT banyak menyebutkan tentang kubur di dalam al-Qur’an baik secara eksplisit maupun implisit, begitu pula Rasulullah SAW di dalam haditsnya yang mulia. Firman Allah SWT tentang alam kubur:

”dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (22:7).

”dan tidak sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (35:22)

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” (60:13)

”pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala.” (70:43)

”kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur.” (80:21)

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.” (100:9)

”sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (102:2)

”yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.” (17:52)

”Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (9:84)

”Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (23:16)

”Berkatalah orang-orang yang kafir:”Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)?” (27:67)

”Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (43:11)

Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang dari kamu berada dalam keadaan tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan berdoa: yang bermaksud: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari siksaan Neraka Jahannam, dari siksa Kubur, dari fitnah semasa hidup dan selepas mati serta dari kejahatan fitnah Dajjal.”

Dalam Lu’lu’ wal Marjan hadits no. 1822 – 1826 [4] disebutkan sabda Nabi SAW:

”Sesungguhnya seorang jika mati, diperlihatkan kepadanya tempatnya tiap pagi dan sore. Jika ahli sorga, maka diperlihatkan sorga, dan bila ia ahli nereka (maka diperlihatkan neraka). Maka diberitahu: Itulah tempatmu kelak jika Allah membangkitkanmu di hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

”Nabi SAW keluar ketika matahari hampir terbenam, lalu beliau mendengar suara, maka bersabda: Orang Yahudi sedang disiksa dalam kuburnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

”Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan dalam kuburnya dan ditinggal oleh kawan-kawannya, maka didatangi dua malaikat, lalu mendudukannya keduanya dan menanyakan: Apakah pendapatmu terhadap orang itu (Muhammad SAW)? Adapun orang beriman maka menjawab, ’Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusanNya.’ Lalu diberitahu: Lihatlah tempatmu di api neraka, Allah telah mengganti untukmu tempat di sorga, lalu dapat melihat keduanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

”Seorang mu’min jika didudukkan dalam kuburnya, didatangi dua malaikat, kemudian dia mengucapkan, ’Asyhadu an laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah’ maka itulah arti firman Allah, ’Allah akan menetapkan orang yang beriman dengan kalimat yang kokoh (14:27)’.” (HR. Bukhori dan Muslim)

”Ketika selesai Perang Badr, Nabi SAW menyuruh supaya melemparkan dua puluh empat tokoh Quraisy dalam satu sumur di Badr yang sudah rusak. Dan biasanya Nabi SAW jika menang pada suatu kaum maka tinggal di lapangan selama tiga hari, dan pada hari ketiga seusai Perang Badr itu, Nabi SAW menyuruh mempersiapkan kendaraannya, dan ketika sudah selesai beliau berjalan dan diikuti oleh sahabatnya, yang mengira Nabi akan berhajat. Tiba-tiba beliau berdiri di tepi sumur lalu memanggil nama-nama tokoh-tokoh Quraisy itu: Ya Fulan bin Fulan, ya Fulan bin Fulan, apakah kalian suka sekiranya kalian taat kepada Allah dan Rasulullah, sebab kami telah merasakan apa yang dijanjikan Tuhan kami itu benar, apakah kalian juga merasakan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar? Maka Nabi ditegur oleh Umar: Ya Rasulallah, mengapakah engkau bicara dengan jasad yang tidak bernyawa? Jawab Nabi: Demi Allah yang jiwaku di TanganNya, kalian tidak lebih mendengar terhadap suaraku ini dari mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Add comment November 18, 2008

TAWASSUL DALAM PANDANGAN ISLAM

Imam Ibnu Taimiah dalam Kitabnya Al-Fataawaa berkata: “Dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya tentang tawassul dengan Nabi dan sebagian yang lain melarangnya. apabila maksud mereka adalah tawassul dengan dzatnya, maka inilah tempatnya perselisihan pendapat (di antara mereka/Ulama). Dan apa-apa yang diperselisihkan oleh mereka harus dikembalikan kepada Allah dan RasulNya.” (Al-Fataawaa, Ibnu Taimiah 1/264)

“Do’a apabila disetai dengan bertawassul kepada Allah lewat perantara seorang makhluk adalah khilaf far’I dalam tatacara berdo’a dan bukan merupakan masalah aqidah” (Asy-Syahid Hasan Al-Banna)

MUKADIMAH

Setiap kali ada musibah dan ujian yang menghantui kehidupan manusia muslim, ia harus kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa, Rabb Semesta Alam. Karena ia meyakini bahwa Allahlah Rabb yang mampu menyingkap hijab-hijab kesulitan, kefakiran dan kepayahan para hambaNya. Dan ia juga meyakini bahwa Dialah yang mampu memberikan pertolongan, kemudahan dan petunjuk. Tidak ada kekuatan lain yang mampu melakukan hal ini selain Dia, Allah SWT. Hal ini didasarkan beberapa firmanNya berikut ini;

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS 27:62)

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS 10:12)

Terkadang dalam memohon dan berdo’a, manusia sering menggunakan perantara -atau yang disebut dengan tawassul dalam terminology aqidah- antara dirinya dan Tuhannya. Karena mereka merasa tidak mampu, lemah dan tidak memiliki apa-apa di hadapan Tuhannya. Hal ini mereka lakukan agar do’a dan permohonannya terkabulkan dengan segera.

Namun sebagai manusia muslim, ia harus selalu memperhatikan rambu-rambu Islam dalam masalah tawassul, karena tidak semua bentuk tawassul atau perantaraan yang berkembang dalam masyarakatnya diperbolehkan dalam ajaran Islam. Boleh jadi seorang muslim dalam berdo’a, ia bertawassul dengan kuburan-kuburan, batu-batuan dan pepohonan yang dikramatkan. Bahkan ada yang meyakini adanya kekuatan lain atau penguasa lain selain Allah SWT yang memiliki kekuasaan atas sebagian wilayah yang ada di bumi ini. Seperti orang yang meyakini adanya Dewa laut, Dewa angin, Dewa Fortuna dan Dewa-dewi lainnya. Dan ini merupakan bentuk penyimpangan yang ada dalam masalah tawassul yang harus dijauhi oleh setiap manusia muslim.

Oleh karena itu, agar tidak terjebak dalam kubangan-kubangan kekufuran dan kesyirikan, setiap muslim harus kembali kepada Allah SWT dalam seluruh bentuk ibadahnya. Berdo’a dan berharap hanya kepada Allah SWT, tawakkal dan istighosah atau isti’anah (memohon pertolongan) hanya kepada Allah semata. Perhatikan beberapa ayat Al-Quran di bawah ini;

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2:186)

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 7:55)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS 40:14)

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 7:180)

DEFINISI TAWASSUL

Secara etimologi tawassul berasal dari kata tawassala yatawassalu tawassulan yang berarti mengambil perantara (wasilah), taqarrub atau mendekat.

Dan secara terminology, tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menggunakan wasilah (perantara). Wasilah sendiri berarti kedudukan di sisi Raja, jabatan, kedekatan dan setiap sesuatu yang dijadikan perantara pendekatan dalam berdo’a. Imam An-Nasafi berkata: “Wasilah adalah semua bentuk di mana seseorang bertawassul atau mendekatkan dirinya dengannya.”

Arti ini bisa kita temukan dalam beberapa firman Allah berikut ini;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS 5:35)

Imam At-Thabari berkata: “Wabtaghuu ilaihi al-wasiilata, berarti carilah kedekatan (jalan apapun atau bentuk kedekatan apapun) yang mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT). (juz 10/ 290)

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS 17:57)

MACAM-MACAM TAWASSUL

Dari definisi di atas bisa kita konklusikan bahwa tawassul terbagi menjaid dua macam;

Pertama, Tawassul Masyru’

Tawassul Masyru’ adalah taqarrub kepada Allah dengan cara yang dicintai dan diridloi Allah SWT seperti taqarrub dengan ibadah wajib atau sunnah dan amal-amal saleh yang lain. Dan tawassul masyru’ ini ada tiga jenis yang telah disepakati oleh Ulama. Yaitu;

1.Tawassul kepada Allah SWT dengan nama-namaNya yang baik dan atau sifat-sifatNya yang mulya. Sebagaiman FirmanNya;

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 7:180)

Ayat ini secara eksplisit memerintahkan hamba-hamba Allah untuk berdo’a kepadanya dengan menggunakan nama-namaNya. Karena do’a yang menggunakan nama-nama dan sifat-sifatNya mudah dan lebih dekat dikabulkan. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa saja yang menjaganya (menghafalnya) niscaya ia kan masuk surga. Dan Dia adalah witir (ganjil) mencintai yang witir.” (HR Al-Bukhari Muslim)

Dalam hadits shahih yang lain Beliau bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku memhon kepadaMu dengan semua nama yang Engkau miliki. Engkau telah menamakan Dirimu dengannya atau Engkau telah menurunkannya dalam Kitabmu atau engkau telah mengajarkannya kepada seseorang dari makhlukmu atau Engkau simpan sendiri dalam ilmulghaib (rahasia ilmu) yang ada di sisiMu, semoga Engkau menjadikan Al-Quran al-Adziim kebahagian hati-hati kami….”

2. Twassul kepada Allah dengan amal saleh, di mana seorang hamba memohon kepada Allah dengan amalnya yang palik baik seperti shalat, puasa, keimanan, ketauhidan, kecintaan, meninggalkan kemaksiatan dan semacamnya. Sebagaiman yang pernah dilakukan oleh Ashhabul ghaar (Orang-orang yang masuk gua) yang terperangkap dalam gua. Lalu setiap mereka berdo’a kepada Allah dengan amal-amal mereka agar Allah membukakan pintu gua yang tertutup dengan batu besar. Satu di anatara mereka bertawassul dengan iffahnya (penjagaannya) dari zina, yang kedua dengan birrul walidain dan yang ketiga dengan amanah atas upah pegawainya. (HR Al-Bukhari Muslim)

Perhatikan beberapa ayat di bawah ini;

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.(QS 3:53)

3. Tawassul kepada Allah dengan do’a orang-orang yang saleh. Apabila seorang muslim mendapatkan musibah, kepayahan dan ujian yang berat dalam hidupnya ia boleh minta tolong kepada orang yang lebih saleh untuk mendo’akannya agar Allah memudahkan dan menyingkap tabir-tabir ujian tersebut. Karena merupakan bentuk pertolongan antara mukmin dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah berfirman;

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS 5:2)

Rasulullah bersabda: “Allah SWT senantiasa membantu hambaNya selama hamba itu membantu saudaranya.”

Dan kisah istisqo’ yang terjadi pada masa Rasulullah saw ketika seorang sahabat yang datang pada hari Jum’at meminta Beliau berdo’a agar Allah menurunkan hujan kepadanya. Lalu Rasul berdo’a di atas mimbar dan selanjutnya hujan turun dengan deras. (HR Ahmad dan Al-Bukhari)

Rasulullah saw juga mencontohkan kepada kita tentang hal ini, ketika Beliau berkata kepada Umar di saat minta izin umrah: “Jangan lupakan kami wahai saudaraku dalam do’amu.”

Kedua, Tawassul Mamnu’

Tawassul Mamnu’ adalah taqarrub kepada Allah dengan cara yang tidak dicintai dan diridloi, baik dengan perbuatan, perkataan maupun keyakinan. Tawassul semacam ini tidak diperbolehkan oleh Islam karena mengandung kesyirikan, bidah dan sumpah dengan makhluk. Dan tawassul ini memiliki beberapa jenis berikut ini;

  1. Tawassul kepada Allah dengan berdo’a dan memohon pertolongan kepada orang yang telah mati atau ghaib dan semacamnya. Hal ini digolongkan sebagai syirik besar yang bertentang dengan tauhid. Karena mayit tidak akan memberikan manfaat dan madharat dalam tawassul.

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS 35:13)

  1. Tawassul kepada Allah dengan melakukan berbagai bentuk ketatan dan kebaikan yang dilarang Islam, seperti makan-makan di atas kuburan wali atau orang yang saleh lainnya, membuang sesajen ke tengah lautan, mandi di sumur yang di keramatkan dan semacamnya. Hal ini bertentangan dengan tauhid dan kesempurnaan tauhid. Bahkan ini bentuk neo-paganisme yang muncul pada zaman sekarang. Mereka meyakini adanya kekuatan lain yang mampu memberikan pertolongan selain Allah SWT. Sebagian ada yang percaya dengan adanya Dewa-dewi dan Jin-jin yang menguasai lautan dan daratan sehingga mereka melakukan perayaan dan sesajen sebagi bentuk tawassul atau bahkan memohon langsung pada berhala-berhala yang mereka tuhankan ini. Allah berfirman;

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS 7:191-192)

Begitu juga Islam tidak membenarkan bertawassul dengan barang-barang atau tempat peninggalan para Nabi dan para Wali. Karena barang-barang ini tidak memliki kemulyaan, keutamaan dan kelebihan sama sekali. Imam Abu Hanifah tidak membenarkan orang yang bersumpah dengan Ka’bah dan Masy’aril Haram. Bagitu juga yang dilakukan Umar bin Khattab ra. Diirwayatkan bahwa Umar setelah menunaikan salat shubuh berjalan-jalan ke suatu tempat di mana banyak manusia datang ke sana. Lalu orang-orang itu berkata kepada Umar: “Rasulullah saw mengerjakan shalat si tempat ini.” Kemudian Umar berkata: “Sungguh telah binasa orang-orang ahlul Kitab kerena mereka menjadikan bekas-bekas para Nabi mereka sebagai sinagog dan tempat ibadah. (HR Syu’bah)

Imam Malik juga melarang orang yang datang ke makam Rasulullah saw untuk tujuan tawassul. Ketika ditanya seseorang yang mendatangi kuburan Nabi, ia berkata: “Jika bermaksud ke kuburan janganlah dan jika bermaksud ke masjid maka lakukanlah.” (Al-Mabsuth, Isma’il bin Ishaq)

3. Tawassul kepada Allah dengan kedudukan dan dzat orang-orang yang saleh.

Tawassul dengan kedudukan dan dzat orang-orang yang saleh adalah merupakan khilaf fiqhy yang menjadi perdebatan para Ulama. Oleh karena itu, Imam Hasan Al-Banna dalam Ushul Al-‘Isyriin berkata: “Dan berdo’a apabila disertai dengan tawassul kepada Allah dengan seseorang dari makhlukNya adalah khilaf far’I (fiqhy) dalam cara berdo’a dan bukan merupakan masalah-masalah aqidah.”

Begitu juga Imam Ibnu Taimiah dalam Kitabnya Al-Fataawaa berkata: “Dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya tentang tawassul dengan Nabi dan sebagian yang lain melarangnya. apabila maksud mereka adalah tawassul dengan dzatnya, maka inilah tempatnya perselisihan pendapat (di antara mereka/Ulama). Dan apa-apa yang diperselisihkan oleh mereka harus dikembalikan kepada Allah dan RasulNya.” (Al-Fataawaa, Ibnu Taimiah 1/264)

Ia juga berkata: “Bahkan maksudnya adalah menjadi muara ijtihad dan apa-apa yang diperselisihkan Ummat ini harus dikembalikan kepada Allah dan RasulNya.” (Al-Fataawaa 1/179)

Hal ini juga diungkapkan oleh Syekh Nashiruddin Al-Albaany (At-Tawassul wa Anwa’uhu wa Ahkamuhu), Syekh Ibnu Baaz (Muhadlorat, DR ‘Ishaam Al-Basyiir) dan Syekh Muhammad Najib Al-Muthi’I (Minhaj Al-Quran Fii ‘Ardhi Aqiidatil Islam)

Meskipun demikian sebagai muslim harus mengambil pendapat yang rajih setelah melihat dalil-dalil dari setiap pendapat para Ulama. Inilah beberapa pendapat para Ulama tentang tawassul dengan kedudukan dan dzat orang-orang yang saleh;

Pertama, Ibnu Taimiah dan Ibnu Qoyyim berpendapat bahwa tawassul ini tidak dibenarkan dalam Islam. Karena perbuatan manusia hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri di sisi Allah SWT. Sebgaimana firman Allah di bawah ini;

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS 53:39)

Jadi kedudukan mulia seseorang yang saleh di sisi Allah hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tidak bagi orang lain. Adalah suatu kesalahan besar orang yang menganalogikan Allah dengan manusia. Jika dalam hubungan sesama manusia kita sering menggunakan perantara karena adanya manfaat tertentu yang diperolehnya, maka kepada Allah hal itu tidak dibutuhkan. Untuk memperoleh keridloan Allah seorang hamba tidak perlu menggunakan perntara. Itulah sebabnya para sahabat tidak melakukan hal dengan kedudukan Rasulullah saw di sisiNya. Mereka setelah wafatnya Rasul justru memohon kepada Abbas untuk mendo’akan mereka. Hal ini yang pernah dilakukan Umar bin Khattab ra. Dalam shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Umar meminta hujan (kepada Allah) bertawassul dengan (do’a) Al-Abbas –Paman Rasul- dan ia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya kami apabila tertimpa kepayahan/kekringan, kami bertawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, kemudian Engkau menghujani kami. Dan apabila kami bertawassul kepada Engkau dengan paman Nabi kami, hendaklah Engkau menghujani kami, akhirnya mereka diberikan hujan.”

Di sini Imam Ibnu Taimaih berkata: “Do’a Umar dalam istisqo ini……. Menunjukan bahwa tawassul merupakan bentuk tawassul yang dibenarkan. Itulah tawassul dengan do’a dan syafaatnya bukan meminta dengan dzatnya. Karena seandainya hal ini (meminta dengan dzatnya) diperbolehkan maka Umar, sahabat Muhajirin dan Anshar niscaya bertawassul dengan dzat Nabi, tidak bertawassul dengan Al-Abbas.” (Qoidah Jaliah fii at-Tawassul, Ibnu Taimiah, 58)

Adapun hadits tentang orang buta yang berkata kepada Rasulullah saw “Aku bertawassul denganmu wahai Muhammad kepada Tuhanmu.” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi), maksudnya adalah permohonan kepada Rasulullah utnuk mendo’akannya. Karena Rasulullah selanjutnya berkata kepada orang itu; “Ya Allah, beri syafaatlah kepadanya krenaku.” (Imam Ahmad). Hal ini dengan mengasumsikan bahwa hadits ini adalah shahih, sebab sebenarnya sanadnya terputus. (Lihat Almadkhal liddirasati al-aqidat al-islamiah ‘alaa madzhabi ahli as-sunnah wa al-jama’ah, DR Ibrahim Al-Buraikan)

Adapun hadits “Bertawassullah kamu dengan kedudukanku kerena kedudukanku di sisi Allah matlah besat.” Adalah maudlu’ (dipalsukan). (Lihat Silsilat al-ahaadits ad-dho’ifah wa al-maudhu’at, Al-Baany)

Dan sementara bertawassul dengan dzat orang-orang yang saleh juga mengandung banyak pengertian yang semua dilarang dan bertentangan dengan syari’at;

a. Bertawassul dengan kedudukan seseorang di sisi Allah

b. Dengan lafadz itu ia ingin bersumpah kepada Allah. Dan bersumpah kepda Allah dengan selainnya adalah haram dan termasuk syirik kecil.

c. Ia ingin membuat perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya dalam mendatangkan manfaat dan menolak madharat.

d. Dengan lafadz ini ia bermaksud memohon berkah yang tidak dibenarkan.

Kedua, Imam Izzuddin Abdus Salam membolehkan tawassul dengan dzat Rasulullah saw khusus dan tidak dibenarkan dengan selainnya. Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal, sementara Imam As-Subki membolehkan tawassul dengan dzat orang-orang yang saleh selain Nabi. Dalil mereka adalah istisqonya Umar yang bertawassul dengan dzat paman Nabi dan hadits orang yang buta yang meminta dikembalikan matanya.

Dan beberpa hadits ini dijawab para Ulama yang tidak memperbolehkan bahwasanya yang dimaksud dengan tawassul di sana adalah permohonan do’a kepada Rasulullah saw dan sebenarnya hadits yang berkaitan dengan orang buta adalah dho’if.

SIKAP SEORANG MUKMIN

Untuk menjaga tauhid dan kesempuranannya, setiap mukmin harus berupaya dan berusaha menjauhkan dirinya dari bentuk tawassul yang mengandung bid’ah dan dilarang oleh Islam. Karena tawassul yang mengandung nilai kemungkaran ini akan berpengaruh pada terkabulnya do’a itu sendiri.

Dan seharusnya setiap mukmin memperhatikan do’a-do’a yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Tentunya selain menjaga etika-etika berdo’a yang telah ditetapkan para Ulama seperti yang paparkan Imam Ibnu Qoyyim dalam Kitab Al-Jawaab Al-Kaafi. Hal ini dimaksudkan agar do’a cepat dan mudah dikabulkan Allah SWT.

Add comment November 18, 2008

Istiqamah; Pencegah Fitnah Syubuhat dan Syahawat

Oleh : Ustadz A. Daerobby

Fitnah syubuhat dan fitnah syahawat merupakan dua istilah yang dimunculkan oleh seorang ulama yang dipanggil Ibn Rajab al-Hanbali atau disebut pula dengan Abul-Faraj al-Hanbali al-Baghdadi, yang hidup pada abad ke-8 H. Nama panjangnya adalah Zainuddin Abul-Faraj ‘Abdurrahman ibn Syihabuddin Ahmad ibn Ahmad Rajab ibn Al-Hasan ibn Muhammad ibn Abil-Barakat Mas’ud as-Salamy. Dua istilah ini diambil dari pemahamannya terhadap dua sinyalemen Nabi Saw dalam haditsnya yang menerang-kan kondisi keagamaan dan keduniaan umat Islam sepeninggal Nabi Saw. Dua istilah itu ialah:

Pertama, fitnah syubuhat, yaitu suatu cobaan dalam agama ketika umat manusia, khususnya umat Islam, ragu akan keyakinannya, atau samar-samar dalam keislamannya. Fitnah/ujian ini menimpa kondisi keagamaan umat manusia, khusus-nya umat Islam. Dalam hadits itu diterang-kan bahwa dengan rekayasa syetan, keadaan umat Islam, setelah Rasul wafat, akan terpecah-belah menjadi beberapa firqah, aliran, golongan, atau sekte yang berbeda-beda. Hingga mencapai tujuh puluh tiga firqah, saking banyaknya.

Munculnya firqah-firqah tersebut, akibat adanya perbedaan dalam segi aqidah, pemikiran, dan atau beda dalam garapan dan tujuan perjuangan yang akan dicapainya. Maka lahirlah golongan-golongan, aliran-aliran, atau sekte-sekte yang berbeda.

Dr. Mani’ ibn Hammad al-Juhanny dalam kitabnya al-Mausû’ah al-Muyassarah, mengemukakan bahwa umat Islam di dunia sepeninggal Rasul sampai masa kini, terbagi ke dalam firqah yang bermacam-macam sesuai dengan cirinya masing-masing. Seperti al-’aqa‘idiyyah, al-madzhabiyyah, al-harakah al-ishlâhiyyah, as-shûfiyyah, jamâ’ah al-ghâliyyah, jamâ’ah tad’û li’i’âdah al-khilâfah, jamâ’ah unsuriyyah, dan harakah al-bâthiniyyah wal-munawah lil-islâm.

Sementara firqah-firqah yang lainnya, yang aneh-aneh mungkin akan menyusul muncul. Ada yang masih eksis sampai kini, ada juga yang sudah tenggelam. Bagi masyarakat awam yang pemahaman agama-nya masih dangkal, kondisi seperti ini tentu akan membingungkan, mengherankan, dan meragukan. Bingung memilih firqah atau golongan mana yang harus diikuti atau dianutnya, karena semuanya mengaku Islam.

Inilah ujian yang sengaja direkayasa oleh syetan dari golongan jin dan manusia agar umat Islam menyimpang atau tersesat dari keyakinannya yang benar dan ragu-ragu terhadap agamanya. Oleh sebab itu disebut fitnah syubuhat (kesamaran) dalam memeluk agama.

Yang harus dipahami dan diwaspadai, sebagian firqah-firqah yang timbul di kalangan umat Islam tidak tertutup kemungkinan dalam inti ajaran dan harakahnya justru jauh dari tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, bahkan sudah menyimpang.

Timbulnya firqah-firqah ini terjadi pula pada pemeluk agama lain seperti Yahudi dan Nasrani. Di kalangan mereka pun ada aliran, golongan dan sekte yang berbeda-beda. Fitnah syubuhat ini melanda semua agama (ahlul-millah). Keadaan ini disebut fitnah, karena memang pada hakikatnya adalah ujian iman bagi umat Islam.

Kedua, fitnah syahawat, yaitu ujian atau godaan materi bagi manusia yang direkayasa oleh syetan dengan segala macam kelezatan dan kesenangan duniawi yang sesuai dengan hawa nafsu, alias kesukaannya. Agar manusia lupa kepada tugasnya sebagai hamba Allah Swt. Sehingga hari-harinya atau waktu-waktunya dihabiskan untuk urusan keduniawian semata. Fitnah ini lebih dahsyat lagi, karena akan melanda semua umat manusia tanpa kecuali. Adapun tanda-tandanya, yaitu manakala kondisi umat manusia dalam perilaku, sikap dan pola pikirnya menganut paham hedonisme, materialisme, individualisme, dan kebebasan yang mutlak tanpa batas dalam segala kehidupan, demi tercapainya kelezatan dan kebahagiaan duniawi.

Tujuan hidupnya adalah mencapai kesenangan dan kemewahan dunia, dalam segala bentuknya. Seperti makanan dan minuman yang lezat tanpa menghiraukan haram atau halalnya, pakaian yang serba mewah supaya kelihatan modern walaupun tidak sesuai dengan ketentuan agama, memfokuskan dirinya kepada hiburan-hiburan untuk mata dan telinganya walau-pun harus dibayar mahal dan nyawa taruhannya.

Fitnah syahawat ini diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, bahwa kata beliau bukanlah kemiskinan atau kefakiran yang aku khawatirkan menimpa umatku, tetapi zahratal-hayatid-dunya; indahnya kehidupan dunia.

Dampak negatif dari kedua fitnah ini, sebagaimana dikatakan Ibn Rajab, manusia pada akhirnya akan saling curiga-men-curigai, timbul perselisihan dan persengketa-an setelah mereka bersaudara. Akan merasa benar sendiri, cenderung menyalahkan orang lain, bahkan menganggap kufur terhadap orang lain yang bukan golongan-nya atau yang tidak sepemahaman dengan-nya. Timbul fanatisme buta. Begitu pula dalam urusan keduniaannya, timbul persaingan yang tidak sehat. Kecurangan, penipuan, kepalsuan, dan pemerasan terjadi dalam segala sektor kehidupan. Kenapa begitu?

Karena semua orang mencari dan mengejar kemewahan dunia. Zahratal hayatid-dunya yang jadi tujuannya.

Agar tidak terbawa arus, terombang-ambing oleh kedua fitnah ini, umat Islam hendaklah meningkatkan iman dan taqwanya kepada Allah Swt. Meningkatkan ilmu keagamaannya, memilih yang sesuai dengan al-Qur‘an dan Sunnah, dan kemudian hati-hati dengan rayuan dunia dan waspada melihat gejolak-gejolak sosial, khususnya dalam bidang keagamaannya. Kemudian istiqamahlah. Artinya ajeglah di jalan Allah Swt.

Untuk hal itu, dahulu ada seorang shahabat, yaitu Abu Amr Sufyan ibn Abdillah memohon kepada Rasulullah: Wahai Rasul, berilah suatu nasihat yang ringkas dalam menjalankan Islam ini, yang saya tidak usah bertanya lagi kepada yang lain!”Rasul menjawab pada waktu itu: Ucapkanlah (dalam hati) Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!”Maksudnya teguh dan ajeglah di situ sebagai orang yang beriman.

Sebenarnya untuk mengatasi fitnah syubuhat cukup seorang mu’min istiqamah dalam memegang pedoman al-Qur‘an dan as-Sunnah. Dan untuk mencegah fitnah syahawat cukuplah seorang mu’min isti-qamah dalam kehidupan yang zuhud.

Yang menjadi persoalan adalah bagai-mana istiqamah itu, dan apa kaitannya antara kedua ujian tadi dengan mashâlihul-akhlâq?

Jawabannya, jika manusia terjebak dalam kedua fitnah itu akibat tidak istiqamah dalam agamanya, maka akan terjadi kerusa-kan akhlaq, moral dan kerusakan aqidah. Al-Jurjani mengatakan bahwa istiqamah dalam pengertian bahasa artinya ajeg, lurus, dawam dalam ketaatan. Sedangkan dalam istilah istiqamah ialah:


Kebalikan dari berbelok, yaitu berjalan-nya seorang hamba dalam jalan ibadah dengan petunjuk syar’i dan akal (yang sehat).”

Artinya jika seseorang tidak tergiur perhatiannya dengan sesuatu, ia terus berada pada jalan yang lurus dalam rangka ber-ibadah kepada Allah, dan dia tetap dalam keadaan begitu apapun yang terjadi, maka ia mempunyai sifat istiqamah dalam dirinya. Tidak mundur karena dicaci, tidak semangat karena dipuji, terus berjalan dalam kebenaran ilahi. Itulah istiqamah, sifat yang terpuji.

Imam al-Maraghi menjelaskan, bahwa istiqamah itu adalah:

Tegak berdiri atau teguh, ajeg dalam keta’atan (kepada Allah Swt), baik aqidah, ucapan, dan perbuatan, disertai konsisten dalam melaksanakannya.

Dilihat dari segi etika atau ilmu akhlaq, Abu ‘Ali Ad-Daqaq mengatakan, bahwa se-seorang baru akan mencapai sifat istiqamah dengan melalui dua tahapan terlebih dahulu. Pertama, at-taqwîm (ta`dîbun-nafsi); yaitu mendidik hawa nafsu, agar mengarah kepada hal-hal yang baik. Dari mulai tahapan nafsul-ammârah, sehingga mencapai nafsul-muthma`innah.

Kedua, al-iqâmah (tahdzîbul-qulûb), yaitu membersihkan hati dari noda-noda dosa, atau penyakit-penyakit batin.

Sesudah kedua hal ini baru mencapai derajat istiqamah, yaitu taqrîbul-asrâr; dekatnya hati nurani, hati kecil, rahasia hati dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Yaitu di kala seseorang tidak menoleh ke sana atau kemari lagi dalam beribadah kepada-Nya. Tidak tergiur dan tidak terbuai dengan gemerlapnya dunia.

Jika istiqamah telah dimiliki seseorang, maka kabar gembira dari Allah Swt akan disampaikan kepada orang itu melalui malaikat-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap lurus, niscaya turun atas mereka malaikat (yang berkata) bahwa janganlah kamu takut dan janganlah berduka cita, dan bergiranglah dengan surga yang pernah dijanjikan kepada kamu. (QS. Fushshilat [41] : 30)

Demikianlah, semoga kita diberi sifat istiqamah dalam menghadapi ujian, cobaan, dan rayuan dunia ini.

Add comment November 5, 2008

Previous Posts


Halaman

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Arsip

Meta

Tulisan Terakhir

Kategori

Komentar Terakhir

fauzi di Tentang diriku…
abufatiyah di NAMA YANG DI LARANG…(yang tida…
amir di NAMA YANG DI LARANG…(yang tida…
nurshodiq di Tentang diriku…

Blog Stats