Takbiratul Ihram Dan Mengangkat Kedua Tangan (Bagian 1)

Oleh: Wawan Shafwan Shalehuddin

Takbir adalah mengucapkan Allahu akbar yang artinya menyatakan dan mengakui ke mahaagungan Allah. Saperti tahlil menyatakan tiada Tuhan selain Allah, Tasbih menyatakan kemahasucian Allah. Oleh karena itu seseorang belum benar-benar tahlil apabila ia masih menyekutukan Allah, Demikian pula ucapan takbir, sangat besar dosa orang yang bertakbir tetapi dadanya masih penuh kesombongan apalagi bahwa segala sesuatu itu harus terwujud sesuai keinginan dirinya.

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً.

Dan jaganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhya kamu tidak akan menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung. Q.S. AlIsra’ : 37

Ihram artinya mengharamkan sesuatu yang asalnya halal. jadi, takbiratul ihram itu mengucapkan Allahu akbar untuk menyatakan dan mengakui keMaha Agungan Allah yang sekaligus masuk kepada suatu ibadah dan mengharamkan beberapa amalan yang sebelumnya halal, takbiratul Ihram sudah menjadi istilah dalam ibadah shalat. Hal ini tidak berbeda pada ihram haji atau kata-kata ihlal haji yang mengharamkan pada beberapa amalan. Oleh karena itu kita dilarang memulai bertakbiratul ihram kecuali setelah benar-benar menghadap kiblat dan siap segala sesuatunya untuk menerima perubahan hukum beberapa amalan yang tadinya halal menjadi haram

Tiga sebutan satu amalan

Takbiratul ihram, takbiratul iftitah atau disebut juga takbiratul ula tetap maksudnya sama. Di sebut takbiratul iftitah karena ucapan takbir ini untuk memulai shalat, disebut takbiratul ula lantaran merupakan takbir pertama pada shalat yang akan diulangi dengan takbir-takbir lainnya.

Wajib hukumnya memulai salat dengan takbiratul ihram bahkan tidak sah salat dimulai dengan bacaan lainnya, di dalam hadis diterangkan:

عَنْ عَلِيَِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُوْرُ وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمَ . – رواه الخمسة إلا الترمذي

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. dari Nabi saw. , ia bersabda, “Kunci (pembuka) salat itu bersuci, pengharamnya takbir dan penghalalnya adalah salam. H.R. Al Khamsah kecuali At Tirmizi

Lebih tegas lagi hadis yang memerintahkan memulai salat dengan takbir, jika bebar-benar telah menghadap kiblat. Dan dalam hal ini Rasulullah saw tidak mencontohkan bacaan lain, apapun yang panjang bahkan yang pendek.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله ُ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قُمْتَ اِلَى الصَّلاَةِ فَأَصْبِغِ الوُضُوْءَ ثُمَّ إسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ. – رواه مسلم

Dari Abu Huraerah, ia mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika kamu telah akan salat maka sempurnakan (ratakan) wudu kemudian menghadaplah ke kiblat dan langsung takbir. H.R.Muslim

Hadis-hadis ini tegas sekali membantah adanya bacaan-bacaan yang sering diamalkan, seperti ta’awwudz, basmalah apalagi melafalkan niat. Rasulullah saw. teah bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيرواه أحمد والبخاري

Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku salat. H.R.Ahmad dan Muslim

Mengangkat Kedua Tangan dan Kaifiyatnya

Mengangkat kedua tangan pada takbiratul ihram itu tinggi, yaitu kedua tangan diangkat sehinggga sejajar dengan pundak dan ujung jari sejajar dengan daun telinga. Marilah kita perhatikan keterangan-keterangan berikut :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا. – رَوَاهُ الخَمْسَةُ إِلاَّ ابْنَ مَاجَةْ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Rasululah saw. apabila berdiri memulai salat, beliau mengangkat kedua tanganya tinggi”. H.R.Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُوْنَا بِحَذْوِ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Diterima dari Ibnu Umar, ia berkata, “Keadaan Rasulullah saw. apabila berdiri memulai salat, beliau mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan kedua pundaknya kemudian mengucapkan Allahu Akbar”. Mutaafaq Alaih

عَنْ مَالِكِ بْنِ الحُوَيْرِثِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَادِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِرواه أحمد و مسلم

Dari Malik bin Al Huwairis bahwa Rasulullah saw. apabila takbir, beliau mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan telinganya. H.R.Ahmad dan Muslim

Di dalam keterangan lain diterangkan bahwa Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya sehinggga mendekati kedua daun telinganya.

عَنِ البَرَّاءِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا إفْتَتَحَ الصَّلاَةَ رَفَعَ يَدَيِهِ إِلَى قَرِيْبٍ مِنْ أُذُنَيْهِ . – رواه أبو داود

Dari Al Bara bin Azib bahwa Rasulullah saw. apabila memulai salatnya, ia mengangkat kedua tanganya mendekati kedua telinganya H.R.Abu Daud

Dengan keterangan ini dapatlah kiranya kami mengambil kesimpulan bahwa mengangkat kedua tangan pada waktu takbiratul ihram itu sejajar dengan pundak dan mendekati telinga. Dengan demikian kedua macam keterangan diamalkan secara bersamaan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ لِلصَّلاَةِ نَشَرَ أَصَابِعَهُ. – رواه الترمذي

Dari Abu Huraerah r.a, ia mengatakan, ‘Rasulullah saw. apabila takbir untuk salat, ia tidak merapatkan jari-jari tangannya H.R. At Tirmizi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s