Istiqamah; Pencegah Fitnah Syubuhat dan Syahawat

Oleh : Ustadz A. Daerobby

Fitnah syubuhat dan fitnah syahawat merupakan dua istilah yang dimunculkan oleh seorang ulama yang dipanggil Ibn Rajab al-Hanbali atau disebut pula dengan Abul-Faraj al-Hanbali al-Baghdadi, yang hidup pada abad ke-8 H. Nama panjangnya adalah Zainuddin Abul-Faraj ‘Abdurrahman ibn Syihabuddin Ahmad ibn Ahmad Rajab ibn Al-Hasan ibn Muhammad ibn Abil-Barakat Mas’ud as-Salamy. Dua istilah ini diambil dari pemahamannya terhadap dua sinyalemen Nabi Saw dalam haditsnya yang menerang-kan kondisi keagamaan dan keduniaan umat Islam sepeninggal Nabi Saw. Dua istilah itu ialah:

Pertama, fitnah syubuhat, yaitu suatu cobaan dalam agama ketika umat manusia, khususnya umat Islam, ragu akan keyakinannya, atau samar-samar dalam keislamannya. Fitnah/ujian ini menimpa kondisi keagamaan umat manusia, khusus-nya umat Islam. Dalam hadits itu diterang-kan bahwa dengan rekayasa syetan, keadaan umat Islam, setelah Rasul wafat, akan terpecah-belah menjadi beberapa firqah, aliran, golongan, atau sekte yang berbeda-beda. Hingga mencapai tujuh puluh tiga firqah, saking banyaknya.

Munculnya firqah-firqah tersebut, akibat adanya perbedaan dalam segi aqidah, pemikiran, dan atau beda dalam garapan dan tujuan perjuangan yang akan dicapainya. Maka lahirlah golongan-golongan, aliran-aliran, atau sekte-sekte yang berbeda.

Dr. Mani’ ibn Hammad al-Juhanny dalam kitabnya al-Mausû’ah al-Muyassarah, mengemukakan bahwa umat Islam di dunia sepeninggal Rasul sampai masa kini, terbagi ke dalam firqah yang bermacam-macam sesuai dengan cirinya masing-masing. Seperti al-’aqa‘idiyyah, al-madzhabiyyah, al-harakah al-ishlâhiyyah, as-shûfiyyah, jamâ’ah al-ghâliyyah, jamâ’ah tad’û li’i’âdah al-khilâfah, jamâ’ah unsuriyyah, dan harakah al-bâthiniyyah wal-munawah lil-islâm.

Sementara firqah-firqah yang lainnya, yang aneh-aneh mungkin akan menyusul muncul. Ada yang masih eksis sampai kini, ada juga yang sudah tenggelam. Bagi masyarakat awam yang pemahaman agama-nya masih dangkal, kondisi seperti ini tentu akan membingungkan, mengherankan, dan meragukan. Bingung memilih firqah atau golongan mana yang harus diikuti atau dianutnya, karena semuanya mengaku Islam.

Inilah ujian yang sengaja direkayasa oleh syetan dari golongan jin dan manusia agar umat Islam menyimpang atau tersesat dari keyakinannya yang benar dan ragu-ragu terhadap agamanya. Oleh sebab itu disebut fitnah syubuhat (kesamaran) dalam memeluk agama.

Yang harus dipahami dan diwaspadai, sebagian firqah-firqah yang timbul di kalangan umat Islam tidak tertutup kemungkinan dalam inti ajaran dan harakahnya justru jauh dari tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, bahkan sudah menyimpang.

Timbulnya firqah-firqah ini terjadi pula pada pemeluk agama lain seperti Yahudi dan Nasrani. Di kalangan mereka pun ada aliran, golongan dan sekte yang berbeda-beda. Fitnah syubuhat ini melanda semua agama (ahlul-millah). Keadaan ini disebut fitnah, karena memang pada hakikatnya adalah ujian iman bagi umat Islam.

Kedua, fitnah syahawat, yaitu ujian atau godaan materi bagi manusia yang direkayasa oleh syetan dengan segala macam kelezatan dan kesenangan duniawi yang sesuai dengan hawa nafsu, alias kesukaannya. Agar manusia lupa kepada tugasnya sebagai hamba Allah Swt. Sehingga hari-harinya atau waktu-waktunya dihabiskan untuk urusan keduniawian semata. Fitnah ini lebih dahsyat lagi, karena akan melanda semua umat manusia tanpa kecuali. Adapun tanda-tandanya, yaitu manakala kondisi umat manusia dalam perilaku, sikap dan pola pikirnya menganut paham hedonisme, materialisme, individualisme, dan kebebasan yang mutlak tanpa batas dalam segala kehidupan, demi tercapainya kelezatan dan kebahagiaan duniawi.

Tujuan hidupnya adalah mencapai kesenangan dan kemewahan dunia, dalam segala bentuknya. Seperti makanan dan minuman yang lezat tanpa menghiraukan haram atau halalnya, pakaian yang serba mewah supaya kelihatan modern walaupun tidak sesuai dengan ketentuan agama, memfokuskan dirinya kepada hiburan-hiburan untuk mata dan telinganya walau-pun harus dibayar mahal dan nyawa taruhannya.

Fitnah syahawat ini diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, bahwa kata beliau bukanlah kemiskinan atau kefakiran yang aku khawatirkan menimpa umatku, tetapi zahratal-hayatid-dunya; indahnya kehidupan dunia.

Dampak negatif dari kedua fitnah ini, sebagaimana dikatakan Ibn Rajab, manusia pada akhirnya akan saling curiga-men-curigai, timbul perselisihan dan persengketa-an setelah mereka bersaudara. Akan merasa benar sendiri, cenderung menyalahkan orang lain, bahkan menganggap kufur terhadap orang lain yang bukan golongan-nya atau yang tidak sepemahaman dengan-nya. Timbul fanatisme buta. Begitu pula dalam urusan keduniaannya, timbul persaingan yang tidak sehat. Kecurangan, penipuan, kepalsuan, dan pemerasan terjadi dalam segala sektor kehidupan. Kenapa begitu?

Karena semua orang mencari dan mengejar kemewahan dunia. Zahratal hayatid-dunya yang jadi tujuannya.

Agar tidak terbawa arus, terombang-ambing oleh kedua fitnah ini, umat Islam hendaklah meningkatkan iman dan taqwanya kepada Allah Swt. Meningkatkan ilmu keagamaannya, memilih yang sesuai dengan al-Qur‘an dan Sunnah, dan kemudian hati-hati dengan rayuan dunia dan waspada melihat gejolak-gejolak sosial, khususnya dalam bidang keagamaannya. Kemudian istiqamahlah. Artinya ajeglah di jalan Allah Swt.

Untuk hal itu, dahulu ada seorang shahabat, yaitu Abu Amr Sufyan ibn Abdillah memohon kepada Rasulullah: Wahai Rasul, berilah suatu nasihat yang ringkas dalam menjalankan Islam ini, yang saya tidak usah bertanya lagi kepada yang lain!”Rasul menjawab pada waktu itu: Ucapkanlah (dalam hati) Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!”Maksudnya teguh dan ajeglah di situ sebagai orang yang beriman.

Sebenarnya untuk mengatasi fitnah syubuhat cukup seorang mu’min istiqamah dalam memegang pedoman al-Qur‘an dan as-Sunnah. Dan untuk mencegah fitnah syahawat cukuplah seorang mu’min isti-qamah dalam kehidupan yang zuhud.

Yang menjadi persoalan adalah bagai-mana istiqamah itu, dan apa kaitannya antara kedua ujian tadi dengan mashâlihul-akhlâq?

Jawabannya, jika manusia terjebak dalam kedua fitnah itu akibat tidak istiqamah dalam agamanya, maka akan terjadi kerusa-kan akhlaq, moral dan kerusakan aqidah. Al-Jurjani mengatakan bahwa istiqamah dalam pengertian bahasa artinya ajeg, lurus, dawam dalam ketaatan. Sedangkan dalam istilah istiqamah ialah:


Kebalikan dari berbelok, yaitu berjalan-nya seorang hamba dalam jalan ibadah dengan petunjuk syar’i dan akal (yang sehat).”

Artinya jika seseorang tidak tergiur perhatiannya dengan sesuatu, ia terus berada pada jalan yang lurus dalam rangka ber-ibadah kepada Allah, dan dia tetap dalam keadaan begitu apapun yang terjadi, maka ia mempunyai sifat istiqamah dalam dirinya. Tidak mundur karena dicaci, tidak semangat karena dipuji, terus berjalan dalam kebenaran ilahi. Itulah istiqamah, sifat yang terpuji.

Imam al-Maraghi menjelaskan, bahwa istiqamah itu adalah:

Tegak berdiri atau teguh, ajeg dalam keta’atan (kepada Allah Swt), baik aqidah, ucapan, dan perbuatan, disertai konsisten dalam melaksanakannya.

Dilihat dari segi etika atau ilmu akhlaq, Abu ‘Ali Ad-Daqaq mengatakan, bahwa se-seorang baru akan mencapai sifat istiqamah dengan melalui dua tahapan terlebih dahulu. Pertama, at-taqwîm (ta`dîbun-nafsi); yaitu mendidik hawa nafsu, agar mengarah kepada hal-hal yang baik. Dari mulai tahapan nafsul-ammârah, sehingga mencapai nafsul-muthma`innah.

Kedua, al-iqâmah (tahdzîbul-qulûb), yaitu membersihkan hati dari noda-noda dosa, atau penyakit-penyakit batin.

Sesudah kedua hal ini baru mencapai derajat istiqamah, yaitu taqrîbul-asrâr; dekatnya hati nurani, hati kecil, rahasia hati dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Yaitu di kala seseorang tidak menoleh ke sana atau kemari lagi dalam beribadah kepada-Nya. Tidak tergiur dan tidak terbuai dengan gemerlapnya dunia.

Jika istiqamah telah dimiliki seseorang, maka kabar gembira dari Allah Swt akan disampaikan kepada orang itu melalui malaikat-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap lurus, niscaya turun atas mereka malaikat (yang berkata) bahwa janganlah kamu takut dan janganlah berduka cita, dan bergiranglah dengan surga yang pernah dijanjikan kepada kamu. (QS. Fushshilat [41] : 30)

Demikianlah, semoga kita diberi sifat istiqamah dalam menghadapi ujian, cobaan, dan rayuan dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s