ABU THALIB MUSLIM ?

Pertanyaan:

Apakah benar Abdul Muththalib paman Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat dalam keadaaan non-muslim? Berdosakah bila tidak percaya seandainya betul Abdul muththalib meninggal nya non-muslim ?

Idin Sahidin-Gunung Tanjung Tasikmalaya

Jawaban :

Abdul Muththalib bukan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, paman beliau bernama Abu Thalib. Abdul Muththalib adalah kakek Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari pihak ayah. Pada usia beliau delapan tahun kakeknya meninggal. Mana mungkin Abdul Muththalib menganut Islam yang dibawa cucunya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus menjadi Rasul pada usia 40 tahun. Apa yang mendasari saudara berkeyakinan bahwa Abdul Muththalib muslim ?

Abu Thalib adalah paman beliau, putra Abdul Muththalib. Ada beberapa riwayat tentang wafatnya Abu Thalib bin Abdul Muththalib, diantaranya adalah:

أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُوْا جَهْلٍ فَقَالَ: أَيْ عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ. فَقَالَ أَبُوْا جَهْلٍ وَعَبْدُ اللهِ ابْنُ أَبْي أُمَيَّةَ يَاأَبَا طَالِبٍ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَيْئٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أُنْهَ عَنْهُ. فَنَزَلَتْ (مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أُوْلِى قَرْبَى مِنْ بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيْمِ) وَنَزَلَتْ (إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ) (رواه البخاري و مسلم و النّسائي)

Bahwa Abu Thalib, ketika datang tanda-tanda wafatnya, ditengok oleh Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Paman, ucapkanlah, LAA ILAAHA ILLALLAH dengan kalimat itu saya dapat berhujjah di hadapan Alloh (bahwa engkau adalah muslim)” Abu Jahal dan kawannya berkata, “Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci millah (agama) Abdul Muththalib ?” Kedua orang itu terus menerus membujuk, sehingga akhir katanya adalah yang dianjurkan mereka yaitu atas millah Abdul Muththalib. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh saya akan memohon pengampunan untukmu andai saya tidak dilarang.” Lalu turunlah (Qs. at-Taubah/9 ayat 113)

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أُوْلِى قَرْبَى مِنْ بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيْمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Jahanam.

Kemudian turun pula Qs. al-Qashash/28 ayat 56:

إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs. al-Qashash/28:56) (HR. al-Bukhariy, Muslim dan an-Nasa’iy)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَبَا طَالِبٍ مَاتَ. فَقَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ. قَالَ إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا. قَالَ:  اذْهَبْ فَوَارِهِ. فَلَمَّا وَارَيْتُهُ رَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ لِي: اغْتَسِلْ (رواه النّسائي)

Dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu, bahwasannya ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seraya berkata, “Bahwa Abu Thalib telah meninggal”. Sabda beliau, “Pergilah, kuburkan dia”. Kata Ali, “Ia meninggal dalam keadaan musyrik”. Sabda beliau, “Pergilah, kuburkan dia”. Setelah saya menguburnya, saya datang lagi kepada beliau, lalu katanya, “Mandilah”. (HR. an-Nasa’iy)

Jangan berkeyakinan tanpa dalil-dalil al-Quran dan al-Hadits shahih. Firman Alloh Ta’ala:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Qs. al-Israa/17:36)

Dari kisah tentang Abu Thalib kita dapat mengambil pelajaran bahwa amal baik saja tanpa iman tidak cukup untuk menyelamatkan diri dari api neraka.

Sumber: Majalah Da’wah Islamiyah RISALAH no. 5 Th. 46 Sya’ban 1428 / Agustus 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s